Oleh Kris Razianto Mada
Sebagai maestro, Affandi terus memberikan inspirasi bagi perupa modern Indonesia. Salah satu hasil insipirasi itu adalah pameran bersama bertajuk “Twenty Fo(u)r Maestro” di Orasis Art Galery Surabaya hingga Rabu (19/9).
Putri Affandi, Kartika, menuturkan, pameran itu bagian pemanusiaan Affandi. Seluruh keluarga pelukis yang meninggal tahun 1990 itu tidak ingin Affandi dikenang lewat tanda tangan di kanvas saja. “Kami ingin dia dikenang sebagai manusia yang berkarya,” ujarnya di Surabaya, Senin (10/9).
Sebanyak 24 pelukis Jawa Timur terlibat dalam pameran untuk mengenang 100 tahun kelahiran Affandi itu. Mereka menjadikan Affandi sebagai obyek lukisan dengan berbagai gaya dan pendekatan.
Ivan Hariyanto membuat potret dirinya dengan dua tangan siap memukul. Di kepalan kirinya terlihat relief wajah Affandi. Di hadapannya, digambarkan seseorang mirip Jakob Oetama, pendiri Kompas, berdiri tenang dan tersenyum menghadapi Ivan yang siap berkelahi.
Potret diri merupakan salah satu model karya Affandi. Bahkan, sebagian besar lukisan terkenalnya berupa potret diri dengan beragam ekspresi.
Badrie merekam kesukaan Affandi merokok pipa cangklong lewat ekstase. Pada karya itu terlihat punggung seorang lelaki bersarung dan berkaus oblong. Hampir seluruh punggungnya tertutup asap dari pipa yang dipegang dengan tangan kiri.
Affandi suka sekali menghabiskan waktu dengan busana seperti di lukisan itu. Tidak lupa tangan kirinya memegang pipa yang mengepulkan asap ke mana-mana. Bahkan, gambaran seperti itulah yang ada dalam benak hampir setiap orang yang kenal atau setidaknya tahu Affandi.
Namun, Watoni memilih penggambaran lain untuk sang Maestro. Dalam Api Itu Tak Pernah Padam, Affandi tua digambarkan mengenakan jas merah dan cukup rapi. Padahal, ia hampir tidak pernah berpakaian seperti itu. Apalagi, di masa tua seperti tergambar dalam lukisan tersebut.
Sementara Maruto dengan tegas menyatakan, Affandi sebagai salah satu sumber inspirasi berkarya lewat Mr Inspiration. Dalam karya itu, kepala Affandi dan kepalanya digambarkan terhubung lewat suatu sistem organik yang rumit. Keduanya digambarkan dalam satu lingkungan sama, sesuatu yang mirip paru-paru.
Dua pelukis lain, Djoeari dan Huang Fong, murni mengenang Affandi sebagai pelukis. Huang Fong menggambarkan itu lewat Affandi is Painting, sementara Djoeri lewat Menu Hari ini menggambarkan menu harian Affandi. Selain makanan bergizi, menu harian Affandi adalah cat minyak untuk melukis.
Meski berbeda gaya dan pendekatan, semua mengenang Affandi sebagai manusia yang berkarya. Semua mengenangnya sebagai orang besar dalam jagad seni rupa Indonesia. Padahal, seperti dikatakannya di forum seni di Paris tahun 1953, Affandi tidak merasa sebagai pelukis. Ia hanya manusia yang tidak berbeda dengan sopir truk.
Kompas, Selasa, 11 September 2007


halo, bos…
gambare wis dadi rung sing nggo biennale jogja? tak tunggu. digarap sing apik yo, cak. nek ora apik tak balekke wae hahahaha….. Salam, http://www.kuss-indarto.blogspot.com